Tuna Pasifik Samakan Warna

Puluhan bahkan ratusan ton ikan cakalang dan tongkol didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Bitung Sulawesi Utara. Ikan-ikan hasil tangkapan itu kebanyakan untuk memasok industri pengalengan ikan setempat. Tetapi hanya cakalang dan tongkol, sementara tuna segar jarang yang didaratkan untuk diolah.
Tuna gelondongan umumnya mendarat di PPS Bitung hanya mampir. Tak diolah di negeri sendiri, tuna dengan tujuan ekspor antara lain Jepang itu langsung dikirim ke Pelabuhan General Santos Filiphina dan diolah di negeri Arroyo tersebut. Fakta ini jelas lebih banyak menguntungkan pengusaha Filiphina. Harus diakui, urusan tuna segar PPS Bitung kalah bersaing dengan pelabuhan tuna terbesar di Filipina itu.
Padahal dari aspek lokasi Bitung tidak kalah strategis dengan General Santos. Menurut Sekretaris Jenderal Badan Riset Kelautan dan Perikanan (Sekjen BRKP), Achmad Poernomo, PPS Bitung posisinya dekat dengan daerah penangkapan ikan di perairan Samudera Pasifik. “Potensi tuna di perairan Pasifik masih belum banyak dieksploitasi oleh kapal tuna kita, kebanyakan masih beroperasi di daerah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia,” kata Poernomo kepada TROBOS baru-baru ini di Jakarta.
Karena itu, lanjutnya, peluang untuk menambah armada kapal tuna di kawasan tersebut cukup besar. Apalagi sekarang Indonesia tengah mengurus keanggotaan WCPFC (Western and Central Pacific Fisheries Commision). Artinya peluang untuk merambah perikanan tuna di  perairan pasifik semakin terbuka. Sebelumnya Indonesia juga sudah terdaftar sebagai anggota dalam CCSBT (Commision for The Conservation of Southern Bluefin Tuna) dan IOTC (Indian Ocean Tuna Commision).
Saat ini kapal-kapal, tuna Indonesia memang ada juga yang sudah menangkap sampai laut lepas di perairan pasifik namun hanya segelintir. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Dedy Sutisna mengatakan, ada 415 izin kapal penangkapan ikan di kawasan perairan tersebut. Ukuran kapal rata-rata 98 Gross Tonase (GT).
Jenis alat tangkap yang digunakan yaitu purse seine, longline, pole and line, dan gill net. Sebanyak 107 kapal beroperasi di perairan teritorial Indonesia dan hanya 6 kapal yang beroperasi di laut lepas Pasifik. Saat ini baru PPS Bitung yang ramai untuk pendaratan tuna di kawasan tersebut. “Ke depan kita akan kembangkan pelabuhan perikanan Dago di daerah Talaud Sulawesi Utara dan Maluku Utara,” kata Dedy.